SHARE

Kasus pembunuhan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Wongso yang tak kunjung usai tidak hanya menjadi sorotan publik tapi juga membuat pengacara kondang Hotman Paris Hutapea tertarik. Bahkan Hotman Paris mengadakan sayembara dengan hadiah Lamborghini untuk kasus kopi maut tersebut.

Sayembara tersebut digelar untuk siapapun, bagi yang dapat menyadarkan saksi ahli yang dihadirkan JPU maka akan bisa mendapat mobil sport Lamborgini. Saksi ahli yang dimaksud Hotman Paris adalah I Made Agus Gelgel Wirasuta dan AKBP Nursamran Abadi.

Menurut Hotman, keterangan ahli racun JPU yakni AKBP Nursamran Abadi dan I Made Agus Gelgel Wirasuta tidak rasional, terkait perkiraan Jessica Kumala Wongso memasukkan racun sianida.

[Baca juga: 11 Kerugian Jika Kalian Tak Punya e-KTP]

Dia mempertanyakan, bagaimana bisa dua ahli tersebut memberikan keterangan soal waktu racun sianida masuk ke es kopi Vietnam, yang seharusnya keterangan tersebut hanya dapat diberikan oleh saksi fakta.

“Rentang waktu dimasukkannya bahan beracun natrium sianida oleh pelaku ke dalam minuman kopi yang diminum oleh korban disebut adalah rentan waktu 16.30-16.45 WIB pada Rabu 6 Januari 2016,” ujar Hotman dalam keterangan tertulis siaran pers Hotman Paris & Partners.

“Rentang waktu menurut saksi ahli merupakan rentang waktu di mana minuman kopi beracun tersebut berada di dalam penguasaan pemesan minuman,” lanjut dia.

Hotman Paris Gelar Sayembara Kasus Jessica Berhadiah Lamborgini
Hotman Paris Gelar Sayembara Kasus Jessica Berhadiah Lamborgini

Hotman pun mempersoalkan, mengapa tambahan keterangan dari kesaksian dua ahli itu dimasukkan dalam persidangan. Padahal berdasarkan pasal 184 ayat 5 KUHAP disebutkan bahwa, baik pendapat atau pun rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan merupakan keterangan saksi.

“Kejadian itu pada 6 Januari 2016. 3 Bulan kemudian yakni 11 April 2016, saksi ahli baru berpendapat sianida dimasukkan pukul 16.30 WIB. Bahkan bila kopi dicampur saat di dalam penguasaan pemesan minuman. Ahli bukan saksi fakta, bukan peramal, bukan Tuhan,” tukas Hotman.

jessica wongso
jessica wongso

Dia juga menganalogikan kejadian itu dengan sebuah kasus.

“Pada tanggal 13 Januari 2016 pukul 12.00 WIB, si Poltak dituduh mencuri laptop dari gedung A di Jalan Kebon Sirih. Tidak ada yang melihat si Poltak mencuri laptop tersebut. Akan tetapi saksi A melihat Poltak pukul 10.00 WIB di lapangan parkir. Dan saksi B melihat Poltak pukul 14.00 WIB membawa satu unit laptop di Pasar Senin. Kesaksian si A dan B ini disebut Kesaksian Berantai atau Ketting Bewijs,” kata Hotman.

[Baca juga: WOW! Desa Terbersih Di Dunia, Salah Satunya Ada Di Indonesia]

“Si Poltak bisa dihukum walau tidak ada yang lihat dia mencuri laptop. Akan tetapi saksi A dan B harus saksi fakta dan berantai. Bukan saksi ahli seperti kasus Jessica,” lanjut dia.

Dengan kesaksian seperti itu, Hotman menganggap terdakwa baru bisa dijatuhi vonis karena mencuri. Namun, keterangan tersebut tidak boleh didapat dari saksi ahli melainkan saksi fakta.

Untuk itu, Hotman menantang bagi siapa saja yang bisa menyadarkan dua ahli, yakni Nursamran dan Gelgel untuk kembali ‎memberi kesaksian yang benar di depan majelis hakim sebelum putusan, akan mendapatkan mobil Lamborgini senilai Rp 12 miliar.

Hanya saja hadiah tersebut cuma diberikan kepada lembaga sosial atau amal. Bukan perorangan